Sunday, May 5, 2013

Keluarga Wawa


Ojan dan Dedut ikut berfoto bersama keluarga Wawa Yayan. Wawa sebenarnya adalah Uwa dalam bahasa sunda yang artinya kakak dari bapak atau ibu. Dalam bahasa jawa sebutannya Pak De atau Bu De. Tapi dalam bahasa sunda 'gender' nya tidak dibedakan.

Dalam foto ini ada Wawa Yayan, Nenek, Wawa Wiwin, Dedut, Ojan dan Teh Bibah. Semua berkumpul saat lebaran tahun 2012. Teh Bibah sedang pegang anak ayam tuh. Ojan sepertinya sedang mengunyah sesuatu. Kalo Dedut mah terlihat sedang menelisik orang yang menggendongnya.

Wawa Yayan adalah kakak kandung abi semata wayang. Ya, Nenek memang cuma punya dua anak, laki semua. Otomatis para mantunya juga perempuan semua. Wawa Yayan dan keluarga tinggal di daerah Kebon Kalapa kota Bandung, di pusat kota. Sementara abi dan keluarga tinggal di pinggir kota Bandung bagian timur, dikelilingi sawah dan banyak komplek perumahan.

Wawa dan abi menjalankan usaha bersama di bidang produksi alat-alat dan kelengkapan khitan/sirkumsisi/sunat. Wawa di bagian riset dan produksi, sementara abi menjalankan manajemen pemasaran dan keuangannya. Masing-masing punya tim. Selain itu Wawa juga menjadi pekerja lepas di bidang instalasi listrik. Saat ini sedang sibuk menjadi bagian dari tim tambak udang yang ada di Pangandaran dan Sukabumi. Oh iya, baru-baru ini Wawa sedang merintis usaha jasa laundry kiloan di dekat rumahnya. Katanya sih sedang laris manis. Mudah-mudahan terus maju.

Wawa Yayan dan Abi hanya terpaut kurang lebih satu tahun usianya. Wawa kelahiran tahun 75 dan abi lahir satu tahun setelahnya. Saat ini Wawa Yayan dan Wawa Wiwin baru memiliki satu anak, yaitu Teh Bibah teman main Ojan yang sangat heboh dan berisi. Nama lengkapnya Habibah Tazkiani. Teh Bibah sangat cerdas dan fasih berkata-kata. Kalau sudah ngobrol dengan Ojan, pasti deh nyambung.

Biasanya setiap sepekan sekali keluarga Wawa berkunjung ke rumah abi dan Nenek. Saat itulah anak-anak alias para cucu nenek bermain bersama. Tapi kalau Wawa sedang sibuk, terkadang hanya satu bulan sekali berkunjung. Nggak apa-apa sih, toh terkadang Nenek yang berkunjung kesana. Kalau abi mah sering ketemu dengan Wawa karena kantor abi dekat dengan rumahnya. Well, itulah sekilas keluarga Wawa.

Thursday, May 2, 2013

Berbuah di Bulan Maret


Pohon mangga di Rumah Multazam mengeluarkan buahnya di bulan Maret. Ini adalah penampakannya di awal Mei 2013. Biasanya mangga berbuah di akhir tahun atau saat cuaca panas. Tapi yang ini mengeluarkan buahnya disaat Bandung masih diguyur hujan. Meskipun iya sih, terkadang diselingi hari panas tanpa ada hujan.

Pohon mangga ini ditanam akhir tahun 2006 saat abi pertama menempati rumah ini. Abi masih single ketika itu, belum di tangkep sama umi, hehehe... Masih ingat saat itu membeli cikal pohonnya di area komplek bersama Wawa Yayan. Dibawa pakai sepeda motor boncengan. Ketika dibeli di penjualnya, dia sudah berbuah. Hebat juga ni pohon mangga, masih ditanam di karung pembibitan dan pendek tapi sudah berbuah. Ditebus oleh abi seharga Rp 125.000 waktu itu.

Sebenarnya di rumah tersebut sudah ada pohon mangga yang tinggi dan berbuah. Posisinya di sebelah kiri halaman rumah. Kata si mantan yang punya rumah, tuh pohon kalau sudah berbuah banyak sekali. Orang-orang sepanjang jalan kebagian. Sayang abi kurang berkenan karena setelah dicoba, rasa buahnya asam. Selain itu ulat bulunya banyak sampai abi gatal-gatal. Ditebanglah si pohon pendahulu ini.

Pohon mangga yang baru, abi tanam di sebelah kanan halaman. Awal-awal ditanam, si pohon ngadat nggak mau berbunga. Kayaknya adaptasi dulu dan salah abi juga dibiarin nggak dipupuk, dibiarkan seadanya saja. Barulah sekitar tahun ke-3 dia mau berbunga. Itu juga sedikit yang jadi buah.

Tahun lalu buahnya cukup banyak sampai menjuntai ke jalan, suka ketabrak mobil waktu dahannya belum ditarik naik. Rasanya sangat manis. Orang Sunda bilang 'kareueut', manis pisan kayak si umi..(begitu menurut pengakuan yang bersangkutan). Kalau sudah menjuntai ke jalan, biasanya anak-anak yang lewat pada ngiler. Sempet ada yang nimpuk tapi abi halau jauh-jauh. Kayak binatang aja ya. Bukan abi nggak mau berbagi, waktu itu sayang buahnya masih nanggung sangat muda. Dirujak juga nggak enak kalau masih terlalu muda. Mubazir nantinya..

Di awal tahun 2013 ini, dia sudah mengeluarkan buahnya lagi meskipun tidak bisa dibilang banyak. Dan sama, sampai menjuntai ke jalan. Kudu siap direlain ajah yang diluar pagar mah. Begitu juga yang ke arah tetangga, diniatkan saja dari awal jadi bagian tetangga. Seharusnya sih bisa lebih banyak lagi buahnya. Sayang bulan lalu hujannya agak sering dan deras. Bunga-bunganya pada rontok tidak jadi buah. Alhamdulillah masih tersisa beberapa yang terus tumbuh menjadi buah.

Semoga di tahun-tahun mendatang buahnya semakin banyak dan besar-besar. Kan abi dan umi bisa bagi-bagi ke seluruh tetangga kalau banyak mah. Kalau sedikit mah, era bin malu. Ayo pohon, banyak-banyak berbuah ya. Keluarga Multazam menanti karyamu...

Nenek dan Sepupu Multazam





Ojan dan Dedut sedang berpose bersama Teh Bibah dan Nenek. Foto ini diambil saat lebaran tahun 2012 di Rumah Multazam. Teh Bibah adalah sepupu Multazam, putri dari Wawa Yayan dan Wawa Wiwin. Ojan, Dedut dan Bibah adalah cucu Nenek semuanya saat ini, belum nambah lagi.

Saat ini Nenek menikmati hari-harinya dengan beraktivitas di Rumah Multazam mengurus dapur dan teras. Masak memasak dan mengurus tanaman di teras adalah hobinya sehari-hari. Biasanya setiap akhir pekan pada hari Sabtu atau Ahad, Wawa dan Teh bibah datang berkunjung. Kalau hari itu tiba, Ojan dan Teh Bibah biasanya sangat asyik bermain kesana kemari di dalam rumah. Dedut mah ngikut ajah jadi anak bawang.

Kalau waktunya santai, bermain dengan Teh Bibah dilanjutkan ke mall terdekat di MTC Bypass. Kalau tidak ke Time Zone, favoritnya ke Jurassic Island. Biarpun bosan buat abi dan umi, tetep aja buat Ojan dan Dedut mah mengasyikan buat mandi bola, korsel, loncat-loncat trampolin, mobil-mobilan peluncur dan mobil gas. Sekali waktu Nenek juga ikut bermain ke sana. Tapi agenda Nenek sih lihat-lihat sambil belanja di Hypermart lantai dasar. Sementara Wawa biasanya cari makanan yang enak-enak.

Pada hari tertentu, Nenek suka berkunjung ke rumah Teh Bibah di daerah Bandung pusat di Kebon Kalapa. Nenek biasanya menggunakan motor listrik (molis) Emoto kesayangannya, berderu dengan bis kota, angkot dan sepeda motor sepanjang jalan raya. Kalau sedang tidak fit, molis diparkir di area Borma komplek. Perjalanan dilanjutkan dengan naik bis kota pergi pulang. 

Itulah sekilas Nenek dan Teh Bibah. Hati-hati di jalan ya Nek kalau naik molis.. Salam buat Teh Bibah dari anak-anak Multazam.

Monday, April 29, 2013

Anak-anak Multazam


Inilah dua jagoan di Rumah Multazam, Ojan dan Dedut. Gambar ini diambil di Taman Lalu Lintas Bandung saat field trip Ojan bersama teman-teman bermainnya di KB RA Madinah. Ojan begitu sangat menikmati field trip ini, sementara Dedut terlihat tegang tanpa ekspresi. Mungkin agak ketakutan bergoyang-goyang naik kereta.

Ojan dan Dedut terpaut 2,5 tahun usianya. Keduanya anak ASI dan anak Umi pastinya. Berat badan saat lahir lebih besar Dedut. Dari postur dan perawakan juga terlihat Dedut berpotensi akan melampaui kakaknya suatu saat. Akan tetapi Ojan lebih dominan di sisi kecerdasan sejak lahir. Psikomotoriknya lebih baik dan aspek verbal juga menonjol. Capetang orang Sunda bilang, nyablak orang Betawi kate.

Anak adalah anugerah yang penuh misteri. Tugas orang tuanyalah menggali misteri itu sampai terkuak dan tiba masa dimana mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab penuh atas diri mereka sendiri. Hidup bersama mereka saat masih kecil memang melelahkan, tetapi ada sisi keparipurnaan orang tua yang terbangun dengan sendirinya seiring kelelahan itu. Keparipurnaan sebagai makhluk Tuhan yang berkembang biak dengan ikatan kasih sayang. Kasih sayang inilah yang lebih dominan dan mengalahkan segala kekurangan. Inna rahmatii ghalabat ghadhabii.. Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan kemarahan-Ku. Demikian Allah 'azza wa jalla berfirman dalam sebuah hadits qudsi. Prinsip ini harus terus diasah hingga mendarah daging pada semua orang tua.

Anak-anak Multazam adalah O dan pastinya O. Karena abi uminya O, mereka akan O selalu. Ya, golongan darah mereka O. Karena kami O semua, tipe olah raga kami adalah olah raga yang berintensitas tinggi untuk memulihkan kebugaran. Begitu kata sebuah referensi yang pernah kami baca. So, let's get it on Multazams !




Rumah Multazam


Perkenalkan kami keluarga Multazam. Keluarga kecil kami beranggotakan 4 orang saat ini. Mudah-mudahan Allah menambah rizqi kepada kami dengan hadirnya anggota keluarga yang baru di masa datang. Kami tinggal di sebuah komplek di kawasan Bandung Timur provinsi Jawa Barat di rumah yang sederhana. Diapit oleh tetangga dan masyarakat yang hangat, dekat ke masjid dan akses yang mudah ke aneka sarana kebutuhan hidup.

Kepala keluarga kami adalah Mohamad Isnaeni, SE. Kelahiran tahun 76 di kota pelabuhan Cirebon. Hijrah ke Bandung tahun 85 dan hingga sekarang hidup dan menetap di Bandung. Pendidikan terakhirnya di Fakultas Ekonomi Unpad jurusan Ekonomi Pembangunan. Saat ini bekerja di grup Yayasan Umat Sehat yang intinya bergerak di bidang medis khususnya sirkumsisi atau khitan. Sehari-hari bermotor ria menembus hiruk pikuk kota Bandung yang dirasa semakin beda sejak pertama menginjak kota ini. 'Ala kulli hal, Bandung tetap lebih nyaman udaranya ketimbang kota lain yang sudah disinggahi, setidaknya dibandingkan kota-kota lain di Jawa Barat yang terasa lebih panas.

Penanggung jawab urusan domestik kami adalah Gita Maryana, S.Si., Apt. Kelahiran tahun 83 di kota Bandung. Lahir dan besar di kota ini menjadikannya asli full graduate ala bandung sejak TK sampai pendidikan terakhir. Jebolan farmasi dan profesi apoteker Unpad ini bekerja di Klinik Sumbawa sebagai penanggung jawab ruang farmasi. Selain itu, mengisi waktu di rumah dengan berbisnis produk Oriflame via daring.

Jagoan pertama kami adalah Fauzan Multazam yang populer dipanggil Ojan. Tapi kami sering memanggilnya Aa atau Oo. Lahir tahun 2009 langsung masuk NICU dan ventilator karena bermasalah di paru-paru akibat menghisap air ketuban yang kotor. Alhamdulillah sampai hari ini dinyatakan sehat dan tidak berdampak apa-apa. Ojan saat ini 'menikmati' kegiatan belajar dan bermain di KB RA Madinah di komplek tetangga. Geraknya sangat lincah dan lidahnya tidak terbendung berkata-kata. Mainan favoritnya serba mobil-mobilan. Biar murah meriah dari plastik, asal mobil-mobilan, mau deh. Say no to robot, orang-orangan, kapal-kapalan, pedang-pedangan.. just cars, that's all he wants. Gambarnya pun selalu mobil-mobilan.

Jagoan kedua kami adalah Haikal Multazam. Kami memanggilnya Dede atau Dedut, tetapi orang lain memanggilnya Ekal. Lahir normal di RB yang berbeda dari Ojan di tahun 2011, Dedut karakternya lebih tenang. Tapi kalau sudah punya keinginan susah ditolak, harus dipenuhi. Tidak percaya hanya dengan penjelasan kata-kata, harus dibuktikan dulu baru percaya. Tidak seperti Ojan yang phlegmatis (cuek), Dedut lebih hangat karena suka menyapa dan memanggil orang-orang di sekitarnya. Lebih mudah tersenyum dan tertawa. Sampai saat ini belum nampak jelas apa kesukaannya, yang pasti masih suka ngoprek barang-barang rumah tangga.

Multazam adalah nama belakang anak-anak kami dengan harapan menempelnya kemakbulan do'a baik bagi mereka ataupun dari mulut-mulut mereka. Kami tidak memberikan nama yang panjang-panjang seperti kebanyakan orang tua muda saat ini, cukup dua kata saja dan diakhiri dengan Multazam. Inilah kami, keluarga sederhana, keluarga Multazam.